AI, Peran dan Dampak dalam keluarga.

AI, Peran dan Dampak dalam keluarga.

Halo sobat sains, kalian tentu sudah tidak asing dengan kata AI. Sesuatu yang saat ini semakin lekat dengan kehidupan kita.

AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan adalah bidang ilmu komputer yang bertujuan menciptakan mesin atau sistem yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia. Ini mencakup kemampuan untuk belajar (machine learning), bernalar, mengenali pola, memahami bahasa, dan memecahkan masalah. AI bekerja dengan memproses data besar untuk membuat keputusan atau prediksi, seringkali beroperasi 24/7 tanpa henti untuk meningkatkan efisiensi.
AI bekerja dengan menganalisis data dalam jumlah besar  untuk mengidentifikasi pola dan hubungan, kemudian menggunakan pola tersebut untuk membuat prediksi atau keputusan.
Tujuan AI adalah meniru kecerdasan manusia dalam berbagai aspek, mulai dari aktivitas sederhana hingga pengambilan keputusan kompleks, dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Adapun Jenis & Teknologi Dasar yang tercakup dalam AI ini Mencakup Machine Learning (mesin belajar dari data), Deep Learning (jaringan saraf tiruan), dan Natural Language Processing (NLP) untuk memahami bahasa manusia.
Contoh Penerapan: Asisten virtual (Siri, Google Assistant), chatbot (ChatGPT), rekomendasi konten (Netflix, YouTube), pengenalan wajah (Face Unlock), hingga mobil swakemudi.
Manfaat AI ini mengotomatiskan pekerjaan berulang, mengurangi kesalahan manusia (human error), bekerja lebih cepat, dan meningkatkan efisiensi.
AI saat ini berkembang pesat, termasuk AI generatif yang mampu menciptakan konten orisinal seperti teks, gambar, dan video.

Dengan begitu banyak bidang yang bisa di jangkau oleh AI, tentunya dalam keluarga kita sedikit banyak ikut terpengaruh atau terdampak.

Kita mulai dari anggota keluarga yang terkecil, contoh anak balita, TK, dan SD. Mereka begitu melihat tontonan video yang digenerate dengan AI akan memiliki tanggapan yang berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan perkembangan penalarannya masih belum matang. Melihat seekor kucing yang berjalan dengan 2 kaki belakang, bebek yang bisa berbicara, balita yang bisa menari dengan lincahnya seperti orang dewasa, bahkan cara bercanda yang mungkin cukup berbahaya dengan saling memukul dengan kayu dan tidak menimbulkan cedera, atau melompat dari ketinggian dan tidak menimbulkan kecelakaan. Jika dicerna tontonan tersebut oleh anak-anak yang masih belum matang cara berfikir dan pemahaman mereka tentang kenyataan atau realitas yang ada, besar kemungkinannya mereka akan mengikuti dan menerapkannya didalam kehidupan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk teman-teman mereka atau anggota keluarga yang lain. Penting disini peran orang tua atau individu yang lebih dewasa memberikan bimbingan dan pengawasan kepada mereka, supaya tidak terjadi tindakan yang berbahaya ataupun salah dalam memahami maksud konten yang di tonton. Selain hal yang bersifat negatif tersebut, tentunya terdapat juga hal positif yang bisa diberikan teknologi AI kepada anak-anak. Diantaranya, sebagai sarana hiburan, melatih keterampilan anak, memudahkan mereka mencari informasi seputar pelajaran mereka dan sebagainya sarana filter untuk konten yang mereka tonton sendiri.

Selanjutnya, kita tinjau anak SMP & SMA. Dari segi usia mereka berkisar antara 14 Sampai 18 Tahun, pemikiran mereka sedikit banyak sudah berkembang. Mereka akan mendapatkan tugas dari sekolah mereka dan juga akan menghadapi berbagai interaksi sosial diluar sekolah mereka. Konten yang tidak sesuai realita dan hanya sekedar hiburan sedikit banyak bisa mereka filter sendiri. Untuk proses pembelajaran AI terutama yang berkaitan tentang informasi, pengerjaan soal, pembuatan gambar, video dan perancangan akan banyak membantu. Namun perlu diperhatikan, alat-alat seperti ChatGPT, Dola, dan sejenisnya. Hanyalah sebagai tool pembantu mereka. Jika tidak, siswa akan cenderung malas berpikir dan berkreasi. Mereka akan mencari kemudahan hanya dengan mengandalkan AI, tanpa mau berusaha berfikir. Disana kreatifitas mati dan kecerdasan mereka terhenti di tempat itu, tidak ada perkembangan kearah yang lebih baik, naik ke level lebih tinggi. Dari sekian banyak siswa jika diberikan persoalan, maka jawabannya akan mirip atau malah sama.

Untuk level selanjutnya? para dewasa? tentu saja banyak manfaat yang bisa diperoleh untuk yang kreatif dan mampu memanfaatkannya. membuat gambar model, video, audio, dan narasi. bisa dengan mudah memanfaatkan AI ini. namun tentu saja diperlukan kreatifitas dan filter dari logika manusia. Human factor, diperlukan sebagai filter atau sisi supervisorynya.

Bagaimana menurut kalian? AI keren kan? keren sekaligus dangerous. pisau bermata dua. kalian sendirilah yang memutuskannya.

Tinggalkan Balasan

Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan